{"id":323,"date":"2026-02-04T17:39:11","date_gmt":"2026-02-04T10:39:11","guid":{"rendered":"https:\/\/themastej.live\/?p=323"},"modified":"2026-02-04T17:40:22","modified_gmt":"2026-02-04T10:40:22","slug":"arti-keluarga-menurut-jerqs-melalui-single-keluarga-hardcore","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/themastej.live\/id\/article\/the-live\/arti-keluarga-menurut-jerqs-melalui-single-keluarga-hardcore\/","title":{"rendered":"Arti Keluarga Menurut Jerqs Melalui Single \u201cKeluarga Hardcore\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Jerqs rilis single berjudul \u201cKeluarga Hardcore\u201d, lantas apa yang disebut Hardcore ini? kita hanya bisa meraba raba dalam gelap akibat obskurantisme dari istilah ketika digandeng dengan kata keluarga.\u2028<\/p>\n\n\n\n<p><br>Grup yang melabeli dirinya sendiri sebagai grup musik para Gen Z ini merilis single ditengah hiruk pikuk. Menawarkan satir diatas segala materi kelewat serius. Ke-tak-seriusan terkadang menawarkan sebentuk keseriusan baru dengan unsur komedinya untuk melonggarkan kekakuan yang sering terejawantahkan dalam narasi-narasi syarat moral dan kode-kode kultural.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lagunya sederhana, liriknya pendek menyeru silsilah suatu token bernama Hardcore. Struktur musiknya menderu, berat dengan distorsi, syarat testosteron dan maskulinitas yang merasuk ditiap-tiap vokal meneriakkan galur keturunan dari sebuah keluarga. Diselingi melodi konyol yang mematahkan tendensi berat dari keseluruhan lagu, sebagai anti-klimaks yang ditawarkan Jerqs.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"4320\" height=\"5400\" src=\"https:\/\/themastej.live\/wp-content\/uploads\/web-post-jerqs-003.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-325\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Layaknya konstruksi kepribadian dalam psikoanalis, dimana Aku-Ibu-Ayah alias the holy family membentuk individu di ranah sadar, pra-sadar dan bawah sadar. Si Aku yang berkembang, melalui fase phalus(Ayah), fase terakhir yang mana si Aku dituntut untuk merepresi kesadaran diri dan menerima sederet belief dari sang phalus atau yang Liyan.<br><br>Single \u201cKeluarga Hardcore\u201d menohok proses demikian yang membeberkan false belief dari istilah Hardcore, dimana sang Aku salah mengira untuk menjadikan ide atas Hardcore pada dirinya. Dari sana tercium narsisme diri yang menimbulkan gegar atau keterbelahan. Inilah titik buta yang di kritisi yang oleh Jerqs dibalut dengan komedi. Cheers!<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"4320\" height=\"5400\" src=\"https:\/\/themastej.live\/wp-content\/uploads\/web-post-jerqs-005.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-326\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<iframe width=\"560\" height=\"315\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/cJoX5sCN_eg?si=UrjfQxU31-IqXQci\" title=\"YouTube video player\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jerqs rilis single berjudul \u201cKeluarga Hardcore\u201d, lantas apa yang disebut Hardcore ini? kita hanya bisa meraba raba dalam gelap akibat obskurantisme dari istilah ketika digandeng dengan kata keluarga.\u2028 Grup yang melabeli dirinya sendiri sebagai grup musik para Gen Z ini merilis single ditengah hiruk pikuk. Menawarkan satir diatas segala materi kelewat serius. Ke-tak-seriusan terkadang menawarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":324,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,14],"tags":[],"class_list":["post-323","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","category-the-live"],"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/themastej.live\/wp-content\/uploads\/web-post-jerqs-001.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=323"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/324"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=323"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=323"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/themastej.live\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=323"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}